Jumat, 03 Agustus 2012

Semarang De Koloniale Tentoonstelling 1914


"Hanja Semarang satoe2nja kota di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara jang pernah menjelenggarakan pameran besar setaraf World Expo. Semarang, Dutch East Indies – Koloniale Tentoonstelling (1914). Betapa tidak, perajaan itu menjadi sebuah perhelatan terbesar jang pernah diselenggarakan di Indonesia dan bahkan termasuk sebagai 1 dari 10 expo dunia (world fair) terbesar jang diselenggarakan antara tahun 1910-1920. Dan hingga saat ini, tidak ada kota lain di Indonesia jang pernah disebut sebagai salah satu penyelenggara World Expo terbesar di dunia, Djakarta sekalipun."

Masih ingatkah anda pelajaran Sejarah pada masa SD, SMP, atau bahkan SMA mengenai artikel karangan Soewardi Soerjaningrat, yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, pada Tahun 1913 yang dimuat dalam harian De Express milik Douwess Dekker, Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang antara lain berbunyi:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun".

Ya surat itu sangat terkenal, karena isinya mengecam habis-habisan pemerintah Belanda yang akan menggelar peringatan 100 tahun kemerdakaan Belanda dari Perancis. Memperingati sebuah kemerdekaan di negeri yang tengah mereka jajah. Tentu saja ini adalah penghinaan sebesar-besarnya untuk Indonesia, yang baru 6 tahun menemukan kesadaran untuk bangkit melawan kolonialisme.
Namun buku sejarah sama sekali tidak pernah sedikit pun menyinggung mengenai perayaan tersebut. Perayaan itu ternyata menjadi bagian lain dari sejarah kota Semarang, yang tidak menjadi bagian sejarah nasional negeri ini.
Tahun 2014 adalah tepat 100 tahun penyelenggaraan Semarang Koloniale Tentoonsteling.


Dari kutipan yang bercetak merah diatas, adalah kutipan yang banyak beredar mengenai perayaan Semarang Koloniale Tentoonstelling yang digelar tahun 1914. Hanya Semarang satu-satunya kota di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan pameran besar setaraf World Expo. Semarang, Dutch East Indies - Koloniale Tentoonstelling (1914). Betapa tidak, perayaan yang digelar hampir seratus tahun yang lalu, tepatnya pada 20 Agustus sampai 22 November 1914 itu menjadi sebuah perhelatan terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia dan bahkan termasuk sebagai 1 dari 10 expo dunia (world Fair) terbesar yang diselenggarakan di antara tahun 1910-1920. Dan hingga saat ini, tidak ada kota lain di Indonesia yang pernah disebut sebagai salah satu penyelenggara World Expo terbesar di dunia, Jakarta sekalipun, dan keterlibatan warga Semarang justru lebih menonjol dari pada penguasa asing (baca: Belanda pada saat itu), setidaknya pembiayaan perayaan ini disponsori sebagian besarnya oleh Oei Tiong Ham, juragan gula tersohor saat itu dari Semarang. Begitupun, perayaan ini juga melejitkan nama seorang arsitek local bernama Admodirono (saat ini menjadi nama jalan di salah satu areal pasar malam ini pada saat itu), yang merancang sebagian besar pavilion-pavilun yang mewakili delegasi beberapa negera peserta expo. Berbagai acara kesenian pun digelar, dan segala macam pesta pora digelar. 
Berikut adalah foto-foto dari Semarang Koloniale Tentoonstelling;








Ya Expo ini sangat besar, meliputi areal seluas 28 hektar di kawasan Gergaji, jalan Pahlawan , Pleburan hingga Siranda. 


Dibalik itu semua, diantara samar-samarnya nama kota ini di persejarahan nasional negeri ini, Semarang pernah menjadi kota terpenting di Nusantara, yang tentu saja hanya tercatat dalam buku sejarah kotanya sendiri. Semarang memang kontroversial. Sebuah kota besar yang tak pernah masuk dalam sejarah negerinya, namun lebih suka menulis sejarahnya sendiri. Tapi akankah Semarang terus menerus hanya mencatatkan sejarah kotanya sendiri? Sudah saatnya Semarang masuk dalam catatan sejarah negeri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar