.

Asal Usul Perkampungan Di Kota Semarang


Penamaan perkampungan tradisional di Kota Semarang pada umumnya diberi nama sesuai legenda, profesi mata pencaharian penduduk, keadaan daerah, maupun tokoh masyarakat yang berada di perkampungan tersebut.
Berikut adalah asal usul penamaan kampung-kampung tradisional di Kota Semarang
Banyumanik, konon katanya berasal  dari tetesan air mata Nyi Ageng Pandanaran yang kemudian berubah menjadi sebuah mata air (banyu) yang berkilauan seperti belian (manik)
Beteng, dahulu disana ada bentengnya
Bulu stalan, dahulu di daerah yang berdekatan dengan pasar bulu ini banyak terdapat kandang kuda (stall)
Gandekan, dahulu sebagai tempat pengrajin emas 
Gang Besen, dahulu di daerah ini banyak penjual besi
Gang Lombok, dahulu di daerah ini adalah kebun lombok
Gang Mangkok, dahulu di daerah ini banyak penjual barang pecah belah
Gedangan, dahulu daerah ini merupakan sebuah kebun luas yang ditanamin pohon pisang milik seorang priyayi. Dari sana kemudian diberi nama gedangan atau daerah penghasil pisang
Gendingan, dahulu di daerah ini banyak pemain dan pembuat alat musik gamelan
Mangkang, nama yang aslinya berasal dari kata Wakang Tjoen atau perahu layar besar (armada Laksamana Cheng Hoo)
Gunung Brintik, dahulu ada tokoh masyarakat bernama mbah brintik
Gunung pati, daerahnya bergunung-gungung dan disana pernah tinggal seorang kyai bernama Pati
Jagalan, dahulu daerah ini ada tempat pemotongan hewan
Kalibanteng, di daerah ini tinggal seorang perempuan sakti bernama Nyai Banteng Wareng, pada saat meninggal kemudian dimakamkan ditepi sungai dekat rumahnya. Sejak itulah oleh masyarakat di daerah tersebut dikenal dengan nama kalibanteng
Kampung baris, dahulu daerah milik tuan Bars
Kampung Baterman, dahulu daerah milik tuan Batermann
Kampung Batik, dahulu penduduknya banyak yang membatik
Kampung Bustaman, diambil dari nama seorang kyai bernama Bustaman
Kanjengan, dahulu sebagai tempat tinggal dan kegiatan pemerintahan semarang ( Kanjeng Bupati )
Kapuran, dahulu di daerah ini ada gudang kapur
Kelengan, dahulu daerah milik tuan Klein
Kentangan, dahulu di daerah ini banyak orang menanam kentang
Kampung Krese, dahulu daerah milik tuan Chriss
Kampung Kulitan, dahulu daerah ini tempat penyamakan kulit milik pedagang kaya bernama Tasripen
Kampung Leduwi, dahulu daerah milik tuan Lodewijk
Kampung Ligu, dahulu disana ada pedagang Cina bernama Lie Goe
Ngaliyan, dahulu di daerah ini ada saudagar kaya Cina bernama Ang Lay An
Pedamaran, di daerah ini ada sebuah makam seorang kyai bernama Damar (ada yang mengatakan sebagai tempat perdagangan damar/bahan pewarna batik)
Pederesan, dahulu disana banyak orang yang menderes pohon enau atau kepala untuk dibuat gula Jawa 
Pekojan, dahulu penduduknya banyak suku Koja asal Gujarat
Peterongan, dahulu daerah ini banyak penjual terong
Petolongan, dahulu di darah ini banyak pembuat talang/tolong/saluran curah air hujan
Petudungan, dahulu daerah ini banyak penjual tudung/caping/tutup kepala
Sayangan, dahulu sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga
Sebandaran, dahulu daerah ini merupakan daerah bandar jika melewati harus membaya
Seteran, dahulu daerah ini ada rumah seorang zuster Belanda
Wotgandul, dahulu di daerah ini ada jembatan gantung (gandul)
Watu Gong, disana terdapat sebuah batu yang menyerupai sebuah gong.
Semoga bermanfaat

Dari berbagai sumber

1 komentar:

Klik untuk komentar
17 May 2017 at 19:31 ×

sekayu : dari pekayuan tempat persinggahan kayu2 jati dari daerah kendal yang akan digunakan membangun masjid Demak

Congrats bro agit setiyoko you got PERTAMAX...! hehehehe...
Balas
avatar

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *